Regulasi

Wall Street Melemah Akibat Penurunan Saham Chip dan Data Tenaga Kerja

103
×

Wall Street Melemah Akibat Penurunan Saham Chip dan Data Tenaga Kerja

Sebarkan artikel ini

NEW YORK – Bursa saham Wall Street melemah pada perdagangan Jumat (5/6/2026). Koreksi ini dipicu oleh aksi ambil untung pada saham-saham produsen chip setelah mengalami reli tajam, serta rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang jauh lebih kuat dari ekspektasi pasar.

Hingga pukul 09.43 waktu setempat, indeks Dow Jones Industrial Average terkoreksi 128,36 poin (0,25%) ke posisi 51.433,57. Sementara itu, indeks S&P 500 melemah 64,63 poin (0,85%) menjadi 7.519,68 dan Nasdaq Composite anjlok 374,02 poin (1,39%) ke level 26.456,94.

Jika tren negatif ini berlanjut hingga penutupan pasar, S&P 500 berpotensi mencatatkan penurunan mingguan pertamanya sejak April. Sebaliknya, indeks Dow Jones justru masih berada di jalur positif untuk mencetak penguatan selama tiga pekan berturut-turut.

Tekanan di pasar saham dipicu oleh laporan *nonfarm payrolls* yang menunjukkan penambahan 172.000 lapangan kerja pada Mei, melampaui estimasi ekonom yang hanya memprediksi kenaikan 85.000 pekerjaan. Data ini memicu kekhawatiran pasar terhadap kebijakan moneter yang lebih agresif dari Bank Sentral AS (The Fed).

Pasar uang saat ini memprediksi peluang sebesar 98% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin sebelum akhir tahun. Angka ini melonjak signifikan dari posisi 60% sebelum data ketenagakerjaan dirilis. Sentimen ini akan menjadi tantangan perdana bagi Kevin Warsh yang baru saja menjabat sebagai Ketua Fed di tengah ancaman inflasi tinggi dan konflik di Timur Tengah.

Sektor teknologi menjadi penekan utama pasar, dengan Nvidia terkoreksi 2,5%. Produsen chip lain seperti Intel, Micron, AMD, dan Broadcom mencatatkan pelemahan antara 4,2% hingga 6,2%. Secara kumulatif, sektor teknologi telah terkoreksi selama tiga sesi beruntun sebesar 2,5%.

Meski sektor teknologi tertekan, enam dari sebelas indeks utama S&P 500 berhasil menguat, dipimpin oleh sektor kebutuhan pokok (*consumer staples*). Investor tampak mulai melakukan diversifikasi portofolio ke sektor yang lebih defensif.

Di sisi geopolitik, pembicaraan antara AS dan Iran masih menemui jalan buntu, yang memperumit prospek perdamaian di Timur Tengah. Citi pun memutuskan untuk mengurangi eksposur di pasar saham guna mengantisipasi risiko inflasi, meskipun tetap optimistis terhadap pertumbuhan berbasis kecerdasan buatan (*AI*) untuk jangka panjang.

Dari emiten individual, saham Lululemon Athletica anjlok 8% setelah perusahaan memangkas proyeksi laba tahunan. Sementara itu, saham produsen lensa kontak, Cooper Companies, melonjak 6,4% usai mencetak kinerja kuartal kedua yang melampaui estimasi pasar.

Pasar juga menanti pengumuman *rebalancing* indeks S&P Dow Jones. Produsen chip Marvell Technology disebut-sebut sebagai kandidat kuat yang akan dimasukkan ke dalam indeks acuan tersebut. Di sisi lain, S&P Global memastikan tidak mengubah syarat kelayakan indeks, sehingga menutup peluang SpaceX untuk masuk ke dalam indeks S&P 500 secara instan setelah IPO.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan kuat pada perdagangan Rabu (3/6/2026), seiring pelemahan nilai tukar rupiah dan sentimen negatif dari dalam maupun luar negeri. Tekanan jual yang masif juga diwarnai aksi keluar dana asing dalam jumlah besar. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup merosot 4,11% atau turun 254 poin ke level 5.941,06. Sepanjang sesi perdagangan, indeks bergerak…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Tekanan di pasar keuangan domestik masih berlanjut. Nilai tukar rupiah dan pasar saham kompak melemah sepanjang pekan terakhir di tengah meningkatnya ketidakpastian dan sentimen negatif investor terhadap aset Indonesia. Mengutip Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot melemah 0,86% dalam sepekan hingga menyentuh level Rp 18.036 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada saat yang sama, tekanan juga terjadi di pasar saham….

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tengah menyiapkan langkah strategis baru melalui rencana penerbitan obligasi, dengan salah satu fokus penggunaan dana sebesar Rp1,5 triliun untuk anak usahanya, PT Arutmin Indonesia. Manajemen BUMI menjelaskan, dana tersebut akan digunakan untuk mendukung keberlanjutan operasional Arutmin, termasuk kebutuhan perpanjangan izin usaha pertambangan serta kewajiban hilirisasi batubara sesuai…