JAKARTA – Isu penggunaan dana pribadi oleh Presiden Prabowo Subianto untuk menanggung kelebihan biaya perjalanan dinas luar negeri menjadi sorotan publik sepanjang akhir pekan ini. Di sisi lain, langkah strategis Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah juga menjadi perhatian utama di sektor ekonomi.
Berikut adalah rangkuman berita populer selengkapnya:
Tanggapan Terkait Penggunaan Dana Pribadi Presiden untuk Perjalanan Luar Negeri
Menteri Keuangan merespons pernyataan Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya mengenai kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang menggunakan dana pribadi untuk menutupi kelebihan biaya perjalanan luar negeri. Menkeu menegaskan bahwa secara logika, tidak ada aturan yang melarang penggunaan dana pribadi untuk kebutuhan tersebut dan hal itu merupakan hak individu.
Pemerintah dipastikan tetap mengalokasikan anggaran perjalanan dinas Presiden melalui APBN. Namun, Menkeu enggan membeberkan rincian anggaran perjalanan dinas untuk tahun 2026 dengan alasan kerahasiaan.
Sebelumnya, Seskab Teddy menjelaskan bahwa langkah tersebut diambil sebagai bentuk efisiensi. Selain menggunakan dana pribadi, pemerintah juga memangkas jumlah rombongan perjalanan luar negeri Presiden secara signifikan, yakni dari lebih dari 120 orang menjadi sekitar 50 hingga 60 orang.
Strategi Bank Indonesia Redam Tekanan Terhadap Rupiah
Nilai tukar rupiah kini masih tertekan dan bertahan di atas level psikologis Rp18.000 per dolar AS, tepatnya di angka Rp18.036 berdasarkan data *Bloomberg*. Menanggapi kondisi tersebut, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkap dua strategi utama yang disusun bersama pemerintah untuk memperkuat stabilitas mata uang nasional.
Strategi pertama adalah meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik guna memicu kembali aliran modal asing (*portfolio inflows*). Bank Indonesia akan memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter agar imbal hasil di pasar saham, Surat Berharga Negara (SBN), dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) lebih kompetitif di tengah tingginya suku bunga global.
Strategi kedua berfokus pada pemeliharaan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan. BI akan mengelola kas pemerintah secara optimal melalui peningkatan remunerasi atau bunga yang dibayarkan kepada pemerintah. Langkah ini dilakukan untuk memastikan operasi moneter tetap berjalan efektif demi menjaga stabilitas nilai tukar serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.







