JAKARTA – Kenaikan harga LPG nonsubsidi dinilai menjadi beban terberat bagi masyarakat kelas menengah saat ini. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), Mohammad Faisal, mengungkapkan bahwa lonjakan harga bahan bakar tersebut memukul pengeluaran harian rumah tangga kelompok menengah secara langsung.
Berbeda dengan LPG, Faisal menyebut dampak kenaikan harga BBM nonsubsidi terhadap kelas menengah tergolong terbatas. Hal ini dikarenakan kenaikan signifikan terjadi pada BBM dengan spesifikasi tinggi seperti RON 98 ke atas, yang pangsa pasarnya didominasi oleh kalangan atas.
“Untuk BBM nonsubsidi yang naik, seperti RON 98 ke atas, dampaknya ke kelas menengah relatif kecil karena konsumennya adalah kalangan atas,” ujar Faisal, Senin (20/4/2026).
Selain LPG, kenaikan harga Avtur juga menjadi perhatian karena berpotensi mendorong kenaikan harga tiket pesawat. Kondisi ini dikhawatirkan akan membatasi mobilitas sekaligus menambah beban pengeluaran kelompok menengah.
Secara makro, kenaikan harga energi ini akan menekan daya beli masyarakat. Mengingat konsumsi kelas menengah merupakan motor utama aktivitas ekonomi nasional, pelemahan pada sektor ini berisiko menghambat produktivitas ekonomi secara keseluruhan.
Untuk jangka pendek, Faisal menekankan pentingnya menjaga stabilitas harga pangan. Ia mendukung kebijakan pemerintah yang tidak menaikkan harga BBM bersubsidi karena langkah tersebut dinilai krusial untuk menahan laju inflasi yang dapat menekan masyarakat lebih dalam.
“Jika BBM subsidi dinaikkan, dampaknya akan terasa ke inflasi pangan dan itu akan membebani kelas menengah secara signifikan,” jelasnya.
Menatap jangka menengah dan panjang, pemerintah disarankan untuk fokus pada upaya penguatan pendapatan masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja formal. Menurut Faisal, kelas menengah telah mengalami tekanan berat bahkan cenderung menyusut sejak masa pandemi, sehingga intervensi kebijakan harus menyasar sektor ketenagakerjaan.
Sebelumnya, PT Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga LPG nonsubsidi efektif per 18 April 2026. LPG 12 kg naik sekitar 18,75 persen menjadi Rp228 ribu per tabung, sementara LPG 5,5 kg naik sekitar 18,89 persen menjadi Rp107 ribu per tabung. Selain LPG, Pertamina juga melakukan penyesuaian harga pada BBM nonsubsidi jenis Dexlite, Pertamina Dex, dan Pertamax Turbo.







