Regulasi

Kenaikan Harga BBM dan LPG Tekan Ekonomi Kelas Menengah Indonesia

218
×

Kenaikan Harga BBM dan LPG Tekan Ekonomi Kelas Menengah Indonesia

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Kenaikan harga LPG nonsubsidi dinilai menjadi beban terberat bagi masyarakat kelas menengah saat ini. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), Mohammad Faisal, mengungkapkan bahwa lonjakan harga bahan bakar tersebut memukul pengeluaran harian rumah tangga kelompok menengah secara langsung.

Berbeda dengan LPG, Faisal menyebut dampak kenaikan harga BBM nonsubsidi terhadap kelas menengah tergolong terbatas. Hal ini dikarenakan kenaikan signifikan terjadi pada BBM dengan spesifikasi tinggi seperti RON 98 ke atas, yang pangsa pasarnya didominasi oleh kalangan atas.

“Untuk BBM nonsubsidi yang naik, seperti RON 98 ke atas, dampaknya ke kelas menengah relatif kecil karena konsumennya adalah kalangan atas,” ujar Faisal, Senin (20/4/2026).

Selain LPG, kenaikan harga Avtur juga menjadi perhatian karena berpotensi mendorong kenaikan harga tiket pesawat. Kondisi ini dikhawatirkan akan membatasi mobilitas sekaligus menambah beban pengeluaran kelompok menengah.

Secara makro, kenaikan harga energi ini akan menekan daya beli masyarakat. Mengingat konsumsi kelas menengah merupakan motor utama aktivitas ekonomi nasional, pelemahan pada sektor ini berisiko menghambat produktivitas ekonomi secara keseluruhan.

Untuk jangka pendek, Faisal menekankan pentingnya menjaga stabilitas harga pangan. Ia mendukung kebijakan pemerintah yang tidak menaikkan harga BBM bersubsidi karena langkah tersebut dinilai krusial untuk menahan laju inflasi yang dapat menekan masyarakat lebih dalam.

“Jika BBM subsidi dinaikkan, dampaknya akan terasa ke inflasi pangan dan itu akan membebani kelas menengah secara signifikan,” jelasnya.

Menatap jangka menengah dan panjang, pemerintah disarankan untuk fokus pada upaya penguatan pendapatan masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja formal. Menurut Faisal, kelas menengah telah mengalami tekanan berat bahkan cenderung menyusut sejak masa pandemi, sehingga intervensi kebijakan harus menyasar sektor ketenagakerjaan.

Sebelumnya, PT Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga LPG nonsubsidi efektif per 18 April 2026. LPG 12 kg naik sekitar 18,75 persen menjadi Rp228 ribu per tabung, sementara LPG 5,5 kg naik sekitar 18,89 persen menjadi Rp107 ribu per tabung. Selain LPG, Pertamina juga melakukan penyesuaian harga pada BBM nonsubsidi jenis Dexlite, Pertamina Dex, dan Pertamax Turbo.

Regulasi

Jakarta, IDN Times – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terus menerus hingga jatuh di bawah level 6.000 dipengaruhi sentimen negatif terhadap perekonomian dalam negeri. Padahal, menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia tumbuh baik. “Jadi kendala utamanya adalah persepsi nega…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Tren pemanfaatan teknologi blockchain terus berkembang, termasuk menghadirkan platform prediksi berbasis aset digital. Salah satu model yang mulai berkembang adalah outcomes market. Ini adalah platform yang memungkinkan pengguna memprediksi hasil suatu peristiwa dan memperoleh imbalan apabila prediksinya tepat. Memanfaatkan konsep tersebut, platform perdagangan kripto global, OKX meluncurkan The Beautiful Game, sebuah…

Regulasi

Jakarta, IDN Times – Bank Indonesia (BI) menyiapkan penyesuaian remunerasi atau bunga yang diberikan kepada pemerintah sebagai bagian dari upaya menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan langkah itu dilakukan melalui pengelolaan kas pemerintah yang tetap ditempatkan di BI. Hal itu disampai…